Pembangunan infrastruktur masif di Ibu Kota Nusantara (IKN) dan ekspansi sektor pertambangan serta perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Timur menghadirkan tantangan logistik yang unik. Salah satu tantangan terbesar yang sering diabaikan pada tahap perencanaan awal namun menjadi kritis saat eksekusi lapangan adalah ketersediaan air bersih. Bagi kontraktor EPC (Engineering, Procurement, Construction) dan manajer operasional site, menemukan sumber air yang layak di tengah lahan basah adalah mimpi buruk logistik. Jasa pengolahan air gambut Kalimantan menjadi kunci strategis untuk menjamin kelangsungan proyek dan kesehatan ribuan pekerja yang beraktivitas di lokasi terpencil.
PT Mizui Osmosa Teknovisa hadir sebagai mitra strategis dengan pendekatan engineering yang presisi. Kami memahami bahwa air di Kalimantan bukan sekadar “kotor”, melainkan memiliki karakteristik kimiawi spesifik yang tidak bisa diatasi dengan filter air konvensional biasa. Artikel ini akan membedah secara mendalam teknis pengolahan air rawa (peat water treatment), mulai dari rekayasa kimia untuk menaikkan pH, penghilangan zat organik, hingga desain instalasi untuk camp pekerja.
Tantangan Hidrologi di Kalimantan Timur dan IKN
Sebelum masuk ke solusi teknis, kita perlu membedah “musuh” kita: Air Gambut. Di wilayah Kutai Kartanegara, Penajam Paser Utara (lokasi IKN), hingga pedalaman hutan Kalimantan, sumber air permukaan didominasi oleh air rawa. Secara visual, air ini berwarna merah kecoklatan seperti air teh, namun secara kimiawi, ia mengandung kompleksitas yang tinggi.
Warna coklat tersebut bukan disebabkan oleh lumpur biasa, melainkan oleh tingginya kandungan zat organik terlarut, terutama asam humat (humic acid) dan asam fulvat (fulvic acid) hasil dekomposisi vegetasi hutan hujan tropis yang tertimbun selama ribuan tahun. Kondisi ini menciptakan air dengan pH yang sangat rendah (bersifat asam), seringkali berada di kisaran pH 3,0 hingga 5,0.
Bagi kontraktor WTP air rawa Balikpapan dan sekitarnya, tantangan utamanya bukan hanya menjernihkan warna, tetapi menstabilkan air tersebut agar aman bagi kulit, tidak korosif terhadap pipa instalasi, dan memenuhi baku mutu kesehatan. Jika air jenis ini langsung digunakan untuk mandi atau mencuci tanpa pengolahan yang tepat, risiko iritasi kulit (dermatitis) pada pekerja akan meningkat drastis, yang pada akhirnya menurunkan produktivitas proyek.
Karakteristik Utama Air Baku Lahan Basah

Sebagai referensi bagi para Site Manager, berikut adalah profil umum air baku di lokasi proyek Kalimantan:
Keasaman Tinggi: pH < 5 (Sangat korosif).
Zat Organik Tinggi: Nilai KMnO4 (Zat Organik) yang jauh di atas ambang batas.
Warna Sejati (True Color): Disebabkan material terlarut, bukan partikel tersuspensi.
Kandungan Logam: Seringkali disertai kandungan Besi (Fe) dan Mangan (Mn) yang terikat dengan zat organik.
Cara menaikkan pH air gambut yang rendah
Langkah pertama dan paling krusial dalam sistem penjernihan air warna coklat/teh adalah netralisasi pH. Mengapa ini harus dilakukan pertama kali? Karena proses koagulasi (penggumpalan kotoran) tidak akan berjalan optimal jika pH air masih dalam kondisi asam ekstrem. Sebagian besar bahan kimia koagulan memiliki rentang pH kerja yang spesifik. Jika pH terlalu rendah, koagulan akan gagal bereaksi, dan air akan tetap keruh meski Anda menuangkan berton-ton bahan kimia.
Dalam rekayasa Water Treatment Plant (WTP), menaikkan pH bukan sekadar menambahkan “obat basa”. Diperlukan perhitungan stoikiometri yang tepat untuk menentukan alkalinity demand.
Pilihan Bahan Kimia Netralisator
PT Mizui Osmosa Teknovisa merekomendasikan beberapa opsi bahan kimia (alkali) berdasarkan kondisi lapangan dan anggaran proyek:
- Soda Ash (Natrium Karbonat / Na2CO3):Ini adalah opsi yang paling umum dan aman digunakan untuk WTP skala menengah hingga besar di remote area. Soda Ash berbentuk serbuk putih, mudah larut, dan meningkatkan alkalinitas tanpa menaikkan kesadahan (hardness) air secara drastis. Reaksinya lebih halus dibandingkan Kaustik Soda, sehingga risiko over-dosing yang menyebabkan pH melonjak drastis lebih kecil.
- Caustic Soda (Natrium Hidroksida / NaOH):Bahan ini sangat kuat dalam menaikkan pH. Biasanya digunakan dalam bentuk cair (flake yang dilarutkan). Kelebihannya adalah reaksi yang sangat cepat dan dosis yang dibutuhkan relatif sedikit. Namun, penanganannya memerlukan prosedur K3 yang ketat karena sifatnya yang sangat korosif dan eksotermik (menghasilkan panas) saat dilarutkan.
- Kapur Gamping (Lime / Ca(OH)2):Opsi termurah, sering digunakan di perkebunan sawit. Namun, kapur memiliki kelarutan yang rendah dan menghasilkan banyak residu lumpur (sludge) di bak sedimentasi. Penggunaan kapur juga meningkatkan kesadahan air (air menjadi sadah/licin sulit berbusa), yang bisa menyebabkan kerak (scaling) pada pipa distribusi dan boiler di kemudian hari.
Proses Teknis:
Dalam desain WTP kami, proses netralisasi dilakukan di Rapid Mixing Tank. pH air baku yang masuk dimonitor secara real-time menggunakan pH meter. Dosing pump akan menginjeksikan larutan Soda Ash atau Caustic Soda secara otomatis berdasarkan set-point yang diinginkan (biasanya target pH 7,0 – 7,5). Transisi perubahan pH ini penting untuk mempersiapkan air memasuki tahap koagulasi.
Penghilangan zat organik pada air rawa
Masalah utama air gambut bukan hanya pH, tetapi kandungan organik yang memberikan warna dan bau khas tanah. Penghilangan zat organik pada air rawa adalah tahap yang membedakan teknologi Peat Water Treatment IKN Nusantara yang canggih dengan filter air sumur biasa. Zat organik seperti asam humat bersifat koloid stabil yang bermuatan negatif, sehingga mereka saling tolak-menolak dan tidak mau mengendap secara alami (gravitasi).
Selain masalah estetika, zat organik adalah prekursor (bahan baku) terbentuknya senyawa karsinogenik bernama Trihalomethane (THMs) jika bereaksi dengan klorin pada tahap disinfeksi akhir. Oleh karena itu, zat organik harus dibuang sebelum proses klorinasi akhir.
Mekanisme Oksidasi dan Adsorpsi
Ada dua pendekatan utama yang kami terapkan di PT Mizui Osmosa Teknovisa:
- Pre-Oksidasi (Opsional & Terkontrol): Pada kasus kekeruhan organik yang sangat pekat, terkadang diperlukan proses pra-oksidasi menggunakan oksidator kuat seperti Klorin (Pre-chlorination) atau Kalium Permanganat (KMnO4). Tujuannya untuk memecah ikatan rantai karbon organik agar lebih mudah digumpalkan. Namun, dosis ini harus sangat presisi. Jika berlebih, justru akan menimbulkan masalah rasa dan bau kimia.
- Adsorpsi Karbon Aktif (Polishing): Meskipun sebagian besar zat organik akan terikat dan mengendap pada proses koagulasi-flokulasi, sisa-sisa zat warna dan bau akan diserap (adsorpsi) menggunakan filter karbon aktif (Activated Carbon Filter) pada tahap akhir. Kami menggunakan karbon aktif berbasis batok kelapa (coconut shell) dengan Iodine Number tinggi (>800-1000 mg/g) yang memiliki luas permukaan pori mikro sangat besar, efektif untuk menyerap molekul organik penyebab bau dan warna sisa.
Mengingat kondisi keasaman tinggi dan beban organik ini, pendekatan fisik semata (seperti melewatkan air ke pasir) tidak akan berhasil. Diperlukan intervensi kimiawi yang cerdas untuk memisahkan zat organik dari air murni. Inilah jembatan menuju tahap selanjutnya: Dosing Koagulan.
Dosing kimia koagulan (PAC/Tawas) air gambut
Setelah pH dinaikkan mendekati netral (pH 6.5 – 7.5), air siap untuk proses koagulasi. Dosing kimia koagulan (PAC/Tawas) air gambut adalah jantung dari proses penjernihan kimia-fisika. Prinsipnya adalah mendestabilisasi muatan negatif pada partikel koloid air gambut dengan menambahkan ion bermuatan positif dari koagulan.
Pemilihan Koagulan: Tawas vs PAC
Dalam praktik lapangan di Kalimantan, sering terjadi perdebatan antara penggunaan Tawas (Aluminium Sulfat) atau PAC (Poly Aluminium Chloride). Sebagai ahli, berikut perbandingannya:
Tawas (Al2(SO4)3):
Kelebihan: Murah dan mudah didapat di pasar lokal Samarinda atau Balikpapan.
Kekurangan: Bekerja efektif pada rentang pH yang sempit. Tawas cenderung menurunkan pH air secara signifikan saat bereaksi (mengkonsumsi alkalinitas). Artinya, jika Anda menggunakan Tawas, Anda mungkin perlu menambahkan lebih banyak Soda Ash untuk menjaga pH tetap netral.
Kinerja: Flok (gumpalan kotoran) yang dihasilkan biasanya lebih ringan dan butuh waktu lama untuk mengendap.
PAC (Poly Aluminium Chloride):
Kelebihan: Merupakan polimer inorganik yang memiliki rantai molekul lebih panjang dan muatan positif lebih tinggi. PAC bekerja efektif pada rentang pH yang lebih luas dan tidak menurunkan pH air sedrastis Tawas.
Kinerja: Menghasilkan flok yang lebih besar, lebih padat, dan mengendap jauh lebih cepat. Ini sangat krusial untuk unit WTP compact atau mobile yang memiliki waktu tinggal (retention time) terbatas.
Rekomendasi: Untuk solusi air bersih lahan basah Kalimantan, PT Mizui Osmosa Teknovisa sangat menyarankan penggunaan PAC, terutama untuk air gambut dengan beban organik tinggi. Efisiensi waktu dan hasil yang lebih jernih sebanding dengan harga yang sedikit lebih tinggi.
Pentingnya Jar Test

Tidak ada “dosis ajaib” yang universal. Air gambut di Kutai Kartanegara bisa berbeda karakter dengan air gambut di Penajam. Oleh karena itu, penentuan dosis injeksi (ppm) wajib didahului dengan Jar Test.
Engineer kami akan mengambil sampel air baku, lalu melakukan simulasi pencampuran dengan variasi dosis (misal: 20 ppm, 40 ppm, 60 ppm, dst) dalam gelas laboratorium. Dosis optimal adalah dosis terkecil yang mampu menghasilkan flok tebal dengan air bening (supernatan) tercepat. Kesalahan dalam dosing (under-dosing atau over-dosing) akan menyebabkan kegagalan proses pengendapan, di mana air tetap keruh atau flok pecah kembali.
Instalasi WTP untuk camp pekerja konstruksi IKN

Proyek pembangunan IKN adalah perlombaan melawan waktu. Ribuan pekerja didatangkan, barak (camp) dibangun dalam hitungan minggu. Infrastruktur pipa PDAM belum masuk, sementara kebutuhan air untuk mandi, cuci, dan kakus (MCK) serta air minum sangat mendesak. Di sinilah instalasi WTP untuk camp pekerja konstruksi IKN tipe Mobile atau Containerized menjadi solusi terbaik.
PT Mizui Osmosa Teknovisa mendesain sistem WTP yang terintegrasi di dalam kontainer (ukuran 20ft atau 40ft) atau dipasang di atas skid frame baja yang kokoh. Konsep ini kami sebut Plug-and-Play.
Keunggulan Sistem Mobile WTP:
Mobilitas Tinggi: Unit dirakit dan diuji coba (FAT – Factory Acceptance Test) di workshop kami. Sesampainya di lokasi proyek IKN, unit hanya perlu disambungkan ke sumber air baku (sungai/embung) dan sumber listrik (Genset).
Ketahanan Medan: Didesain tahan terhadap guncangan transportasi di jalan off-road Kalimantan dan cuaca ekstrem.
Kapasitas Fleksibel: Kami menyediakan unit dengan kapasitas mulai dari 5 m³/jam hingga 50 m³/jam, disesuaikan dengan jumlah pekerja.
Studi Kasus: Perhitungan Kebutuhan Air Camp
Sebagai contoh, sebuah site camp konstruksi menampung 1.000 pekerja.
Estimasi kebutuhan air bersih domestik (standar konstruksi): 120 – 150 liter/orang/hari.
Total kebutuhan: 1.000 orang x 150 liter = 150.000 liter/hari (150 m³/hari).
Jam operasional WTP: 10 jam/hari.
Kapasitas WTP yang dibutuhkan: 15 m³/jam.
Dengan alat filter air gambut menjadi air minum (opsional dengan tambahan sistem Reverse Osmosis), kami dapat membagi output menjadi dua jalur: 90% air bersih untuk MCK dan 10% diproses lanjut menjadi air minum layak konsumsi, mengurangi ketergantungan pada pembelian air galon yang mahal dan sulit distribusinya.
Struktur unit WTP kami umumnya terdiri dari:
Intake Pump (Pompa hisap tahan lumpur).
Static Mixer (Pencampur bahan kimia).
Flocculation & Clarifier Tank (Tangki pengendapan berbentuk kerucut/lamella).
Intermediary Tank.
Filter Tank (Sand Filter & Carbon Filter).
Disinfection Unit (Dosing Kaporit/UV).
Standar air bersih Peraturan Menteri Kesehatan
Semua rekayasa teknologi di atas bermuara pada satu hal: Kepatuhan terhadap regulasi (Compliance). Bagi perusahaan tambang dan kontraktor BUMN/Swasta di IKN, isu kesehatan lingkungan (HSE) adalah prioritas mutlak. Menggunakan air rawa mentah tanpa pengolahan yang memenuhi standar adalah pelanggaran serius.
Acuan utama yang kami gunakan adalah Standar air bersih Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2017 tentang Standar Baku Mutu Kesehatan Lingkungan dan Persyaratan Kesehatan Air untuk Keperluan Higiene Sanitasi, Kolam Renang, Solus Per Aqua, dan Pemandian Umum.
Parameter Kunci Permenkes 32/2017
Untuk keperluan Higiene Sanitasi (Mandi/Cuci), air hasil olahan WTP Mizui Osmosa Teknovisa dijamin memenuhi parameter berikut:
Parameter Fisik:
Kekeruhan (Turbidity): Maksimal 25 NTU. Air olahan kami biasanya mencapai < 5 NTU (sangat jernih).
Warna: Maksimal 50 TCU. Air gambut yang semula 300-500 TCU akan kami turunkan hingga bening tak berwarna.
Bau: Tidak berbau.
TDS (Total Dissolved Solids): Maksimal 1000 mg/l.
Parameter Kimia:
pH: Wajib di rentang 6,5 – 8,5. Ini krusial untuk mencegah iritasi kulit pekerja.
Besi (Fe): Maksimal 1,0 mg/l.
Mangan (Mn): Maksimal 0,5 mg/l.
Zat Organik (KMnO4): Maksimal 10 mg/l. Ini indikator suksesnya penghilangan zat organik air rawa.
Parameter Mikrobiologi:
Total Coliform: Maksimal 50 CFU/100ml.
E. Coli: 0 CFU/100ml.
Hal ini dicapai melalui proses disinfeksi akhir menggunakan Klorin (Kaporit) dengan sisa klor (free chlorine) terjaga di 0,2 – 0,5 ppm di ujung kran distribusi untuk mencegah rekontaminasi bakteri.
Penting untuk dicatat bahwa untuk kebutuhan air minum (potable water), standar yang digunakan berbeda, yaitu Permenkes No. 492 Tahun 2010. Jika klien membutuhkan air minum, PT Mizui Osmosa Teknovisa akan menambahkan modul Ultrafiltration (UF) atau Reverse Osmosis (RO) dan sterilisasi Ultraviolet (UV) setelah unit WTP standar untuk menjamin air 100% steril dan bebas mineral berbahaya.
Solusi Terintegrasi
Mengelola air di Kalimantan Timur, khususnya untuk menyokong proyek strategis nasional di IKN Nusantara, membutuhkan lebih dari sekadar penjual filter air. Dibutuhkan pemahaman mendalam tentang kimia air rawa, rekayasa proses yang efisien, dan ketangguhan peralatan di lapangan. Air gambut yang asam, berwarna, dan kaya organik dapat diubah menjadi air bersih yang jernih dan sehat melalui tahapan: Netralisasi pH, Oksidasi Organik, Koagulasi-Flokulasi dengan PAC, Filtrasi Media, dan Disinfeksi.
PT Mizui Osmosa Teknovisa siap menjadi mitra teknis Anda. Kami tidak hanya menyediakan peralatan, tetapi memberikan solusi end-to-end: mulai dari analisis laboratorium air baku, desain engineering, pabrikasi, instalasi, hingga commissioning dan pelatihan operator lokal.
Jangan biarkan kualitas air yang buruk menghambat progres proyek atau mengganggu kesehatan tim Anda. Pastikan kebutuhan air bersih proyek IKN, pertambangan, dan perkebunan Anda terpenuhi dengan standar teknik yang benar.
Siap untuk konsultasi mengenai masalah air gambut di lokasi Anda? Hubungi tim engineering kami untuk survei lokasi dan diskusi teknis lebih lanjut.

